Gerakan Di Luar Sholat, Sujud Sahwi, Masbuq, & Jama’-Qoshor

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai sholat yaitu :

  1. Saya pernah membaca bahwa klo dlm melaksanakan sholat kita melakukan gerakan selain gerakan sholat/mengucapkan kata2 berarti sholatnya batal, bagaimana jika kita dlm keadaan sakit lalu  melaksanakan sholat tanpa sengaja terucap kata aduh/ya Allah (refleks krn menahan sakit)/tangan kita memegang bagian tubuh yg sakit lalu bagaimana hukumnya?
  2. Sujud sahwi/sujud lupa dilakukan sebelum salam 2x seperti sujud biasa, yg ingin saya tanyakan pd waktu duduk antara 2sujud bacaan apa yg kita baca? apa sama dg bacaan duduk antara 2sujud disholat yg biasa?
  3. Dlam kondisi bagaimana kita blh menjamak sekaligus mengqoshor sholat? klo dlm bepergian yg cuma butuh perjalanan 1hari/bila kita sedang melaksanakan acara hajatan misal perkawinan apa boleh?bagaimana niat jama’ magrib&isya?
  4. Tata cara utk makmum masbuq apabila ikut dirakaat ke2 lalu imam tahiyat awal makmum tahiyat awal, dirakaat ke-4 imam tahiyat akhir makmum masbuq tdk tahiyat akhir baru setelah imam salam makmum meneruskan sholat rakaat terakhir dan tahiyat akhir, apa benar gerakannya seperti itu? apabila ikut rakaat ke-3 lalu pada waktu imam rakaat ke-4 tahiyat akhir makmum tahiyat awal (karena dihitung rakaat ke-2) lalu baru meneruskan 2 rakaat termasuk tahiyat akhir? 

Maaf sebelumnya klo banyak pertanyaan yang saya sampaikan, atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terima kasih.  

Walaikumsalam,

– Emmi

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

  1. Memang benar bahwa, pada prinsipnya seseorang tidak boleh secara sengaja melakukan gerakan tambahan selain yang merupakan bagian dari gerakan khusus dalam shalat. Karena ia diwajibkan untuk khusyuk di dalam shalatnya, sedangkan adanya gerakan tambahan itu bertentangan dengan kekhusyukan. Ini jika gerakan tambahan tersebut dilakukan tanpa adanya sebab atau keperluan yang dibenarkan. Adapun jika ada sebab atau ada keperluan tertentu yang menuntutnya, maka gerakan tambahan bisa dibenarkan dan tidak mempengaruhi sahnya shalat seseorang.

    Karena Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab salam di dalam shalat dengan memberi gerakan isyarat tangan atau telunjuk (lihat HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Bahkan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjalan di dalam shalat Beliau untuk membukakan pintu bagi Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Abu Dawud). Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan membunuh kalajengking dan ular (jika ada) di dalam shalat (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dan tindakan membunuh dua binatang berbisa tersebut tentu membutuhkan gerakan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah shalat sebagai imam sambil menggendong cucunda Beliau Umamah binti Zainab radhiyallahu ‘anha. Dimana saat sujud, Beliau meletakkaannya, dan ketika hendak bangkit berdiri, Beliau menggendongnya kembali (lihat HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Qatadah).

    Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut dan lainnya, gerakan tangan memegang bagian tubuh yang sakit di dalam shalat, seperti yang Anda tanyakan tersebut, tidak apa-apa dan tidak membatalkan shalat. Adapun tentang ucapan di dalam shalat, maka masalahnya lebih ketat lagi, dimana seseorang dilarang berkata-kata atau berucap dengan perkataan-perkataan atau ucapan-ucapan di dalam shalatnya selain yang merupakan bagian dari bacaan shalat. Dari Arqam bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita: “Dulu kami biasa berkata-kata dan berbicara di dalam shalat, dimana seseorang di antara kami berbicara dengan kawannya yang ada di sebelahnya  di dalam shalat, sampai turun firman Allah (yang artinya): “Peliharalah seluruh shalat (mu), dan (peliharalah secara khusus) shalat wusthaa (peretengahan = shalat Ashar / shalat Shubuh). Dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” [QS. Al-Baqarah 2: 238]. Lalu kamipun diperintahkan untuk diam (dalam shalat) dan dilarang berkata-kata lagi” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain). Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepadanya): “Sesungguhnya di dalam ibadah shalat ini, tidak boleh ada sesuatupan dari jenis perkataan orang. Ia hanya untuk bertasbih dan bertakbir (baca: berdzikir) serta membaca Al-Qur’an saja” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasaa-i dan lain-lain).

    Dengan demikian dan berdasarkan dalil-dalil tersebut serta yang lainnya, maka mengucapkan kata-kata “ya Allah” atau apalagi “aduh” dalam shalat karena menahan rasa sakit, pada dasarnya adalah dilarang. Terutama kata-kata “aduh” tersebut, dimana larangannya bisa menjadi lebih keras lagi, dan bisa sampai membatalkan shalat itu sendiri. Karena para ulama telah sepakat bahwa, di dalam shalat tidak boleh terucap ucapan apapun yang berasal dari bahasa lain selain bahasa Arab! Dan kata “aduh” jelas bukan dari bahasa Arab!
  1. Di dalam semua hadits dan riwayat tentang sujud sahwi, hanya disebutkan bahwa sujud sahwi itu sebanyak dua kali disertai ucapan takbir untuk setiap kali sujud serta saat bangkit daripadanya, dan tidak disebutkan sama sekali adanya doa atau dzikir tertentu yang dibaca dalam posisi duduk antara dua sujud. Maka sunnahnya ya saat seseorang duduk antara dua sujud sahwi itu cukup duduk saja tanpa membaca apa-apa. Ini alternatif pendapat pertama yang insyaa-allah lebih kuat dan afdhal. Tapi ada alternatif pendapat lain yang mengqiyaskan duduk antara dua sujud sahwi itu dengan duduk antara dua sujud dalam shalat pada umumnya, sehingga disamakan antara keduanya, baik dalam tata cara duduk maupun termasuk bacaannya. Maka dengan begitu, menurut alternatif pendapat kedua ini, dibolehkan dan disunnahkan saat duduk antara dua sujud sahwi seseorang membaca bacaan dzikir yang dibaca saat duduk antara dua sujud pada umumnya. Karena itu yang jelas ada dalilnya.
  2. Diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan shalat dengan cara qashar dan jama’ pada saat ia berada dalam posisi dan status sebagai musafir (orang yang bepergian). Tapi ada perselisihan diantara para ulama madzhab fiqih dalam menentukan batas minimal jarak tempuh perjalanan seorang musafir yang sudah membolehkan dilakukannya qashar dan jama’. Dimana seluruh madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sama-sama sepakat membatasi jarak tempuh minimal untuk shalat qashar dan jama’. Meskipun mereka semua akhirnya berbeda-beda dalam menentukan batas minimal tersebut, masing-masing sesuai dengan ijtihadnya sendiri-sendiri. Hal itu disebabkan karena memang tidak ada satu dalilpun yang shahih dan sharih (sahih dan tegas) dalam pembatasan tersebut.

    Maka oleh karenanya, kami lebih cenderung kepada pendapat yang tidak membatasi jarak tertentu. Dan mengembalikan masalah batasan dan definisi safar (bepergian) atau musafir (orang yang bepergian) kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat). Yakni kapan menurut ‘urf masyarakat bahwa seseorang disebut dan dikenal sebagai musafir, maka pada saat dan dalam kondisi itulah ia boleh menqashar dan menjama’ shalatnya.

    Misalnya saja ketika ia bepergian minimal keluar kota tinggalnya atau keluar wilayah kabupatennya, dan seterusnya. Sehingga dibenarkan bagi seseorang untuk mengqashar dan menjama’ shalatnya jika ia bepergian yang membutuhkan perjalanan satu hari, seperti yang disebutkan dalam pertanyaan. Adapun untuk keperluan hajatan seperti pernikahan dan semacamnya, maka menurut jumhur ulama tidak dibenarkan bagi seseorang untuk mengqashar dan menjama’ shalatnya karena itu. Sedangkan dalam madzhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, dibenarkan baginya untuk menjama’ saja dan tanpa mengqashar, dengan syarat bahwa hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan rutin. Sementara itu seluruh ulama sepakat bahwa, tempat niat adalah hati, karena niat itu memang perbuatan dan amal hati. Sehingga dalam melakukan qashar dan jama’ shalat maghrib dan ‘isya misalnya, seseorang cukup meniatkannya dalam hati, dan tidak perlu melafalkannya dengan lesan, yang sering justru menyulitkan dan merepotkan.
  1. Yang penting, pada prinsipnya ketika Anda shalat sebagai makmum dalam sebuah shalat berjamaah, maka kewajiban Anda adalah mengikuti semua gerakan imam (khususnya yang bersifat wajib). Karena memang adanya imam itu untuk diikuti. Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya imam itu diangkat hanya untuk diikuti” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lain-lain). Hal itu baik saat Anda ikut berjamaah dari awal ataupun saat menyusul sebagai masbuq. Dan saat sebagai masbuq, maka sejak bergabung dengan suatu shalat jamaah, maka yang terpenting Anda pikirkan dan lakukan hanyalah mengikuti seluruh gerakan imam sampai ia salam Tanpa perlu bingung memikirkan misalnya saat imam duduk tahiyat awal, ini duduk tahiyak apa bagi Anda? Atau saat imam duduk tahiyat akhir, itu duduk tahiyat keberapa bagi Anda? Jadi sekali lagi Anda tidak perlu bingung memikirkan itu. Yang penting pokoknya Anda harus mengikuti imam sampai salam. Dan setelah imam salam, Anda harus menyempurnakan jumlah rakaat shalat Anda yang masih kurang sesuai dengan kekurangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Jika kalian mendengar iqamah maka pergilah menuju shalat berjamaah dengan tenang dan sopan, serta janganlah tergesa-gesa. Yang masih bisa kalian dapatkan (dari amalan-amalan shalat itu) maka lakukanlah shalat (mengikuti imam), dan yang terlewat bagi kamu (diantara rakaat-rakaatnya), maka sempurnakanlah (setelah imam salam)” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Demikianlah jawaban yang bisa kami berikan, semoga dipahami dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Tinggalkan komentar

Filed under Konsultasi, Sholat

Berbagi Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s