Riba Pinjaman Padi

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb.

Saya mempunyai permasalahan dengan sirkulasi keuangan yang sampai saat menurut saya ini masih meragukan mengenai dasar hukumnya. adapun permasalahan tsb sbb.

Keluarga kami mempunyai usaha dibidang jual beli padi yaitu prosesnya pada waktu bulan juni-juli kami beli padi dari petani dan padi tersebut kami  stock selanjutnya biasanya kami jual pada bulan februari. Pada tengat waktu antara juli-feb ada teman / suadara untuk pinjam uang dan karena yang ada adalah padi maka kami pinjami padi (misal 1 ton ) dan langsung di jual di tengkulak dan yang menjualkan saya waktu itu seharga 1500 000 pada waktu si peminjam mengembalikan dia mau mengembalikan dalam bentuk uang senilai 1 500 000. karena saya merasa tidak meminjamkan uang maka saya suruh dia mengembalikan dalam bentuk padi . karena orang tsb bukan petani maka pengembalian uangnya dikruskan dengan harga padi pada waktu itu dan kebetulan seharga Rp. 2 000 000,-/1 ton.

Yang saya ingin tanyakan bagaimana hukumnya uang Rp. 500 000 sisa pinjaman tsb. ? karena biasanya kalau pada waktu pengembalian pinjaman apabila harga padi turun saya juga ingin pengembaliannya dikruskan harga padi juga (ikut turun).

Demikian terima kasih

– Imam

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

Di dalam permasalahan yang Anda ajukan di atas terdapat minimal dua macam kemungkinan pelanggaran sebagai berikut:

Pelanggaran pertama berupa meminjamkan atau menghutangkan padi yang tidak dibenarkan karena termasuk transaksi riba. Karena barang-barang yang menjadi bahan makan pokok seperti beras, gabah, padi, jagung, gandum dan semacamnya adalah termasuk kategori barang-barang riba (ribawiyyat) yang tidak boleh ditukar kecuali dengan barang sejenis dan secara kontan, seperti halnya emas dan perak. Berarti tidak boleh dipinjamkan atau dihutangkan, begitu pula tidak boleh ditukar dengan barang lain jenis meskipun kontan. Hal itu berdasarkan hadits berikut: “(Jual beli/tukar menukar) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, haruslah sejenis, setara dan kontan! Jika jenis-jenis barang tersebut berbeda, maka kamu boleh menjualnya sekehendakmu, selama tetap dilakukan secara kontan” (HR. Muslim). Dan para ulama meng-qiyas-kan pada gandum semua bahan makan pokok yang dapat ditakar dan ditimbang, sehingga termasuk di dalamnya padi, jagung dan semacamnya.

Dan pelanggaran kedua adalah jika transaksi hutang piutang atau pinjam meminjam tersebut adalah berupa pinjam meminjam uang, maka pinjaman Rp.1.500.000,- yang dikembalikan dengan nilai nominal Rp.2.000.000,- adalah juga termasuk riba yang diharamkan.

Dan jika ingin bebas dari hukum riba dalam kasus Anda di atas, maka harus disepakati bahwa transaksi yang terjadi adalah pinjam meminjam uang Rp.1.500.000,- yang harus dikembalikan sama yakni Rp.1.500.000,- tidak kurang dan tidak lebih. Sehingga jika sudah terlanjur dibayar Rp.2.000.000,- maka selisih uang Rp.500.000,- harus dikembalikan kepada si peminjam.

Demikian jawaban yang bisa kami berikan, semoga dipahami dengan baik dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Tinggalkan komentar

Filed under Janji - Nadzar - Hutang, Konsultasi, Muamalah & Simpan-Pinjam

Berbagi Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s