Tidak Dianggap Anak Setelah Ortu Cerai

Pertanyaan:

Sebelumnya saya meperkenalkan diri saya, Dhian R. 27 tahun latar belakang keluarga kami dari keluarga yang sangat berantakan jauh dari rasa Rumahku adalah surga bagi saya. Sebagai anak k2 dari 6 bersaudara. Saya berserta kakak saya merupakan saudara kandung (hubungan kami juga tidak harmonis kami tidak saling bertegur sapa satu sama lain termasuk juga sama istri nya)sedangkan yang lain merupakan step brother.

Ibu saya bercerai dengan Ayah (Ayah sekarang telah tiada 1 tahun yang lalu) sekitar umur saya 3 bulan  kemudian saya diasuh oleh Nenek hingah menginjak pra TK Ayah menikah kembali. Demikian juga ibu menikah tetapi ia menikah terlebih dulu karena menurut informasi yang beredar dimasyarakat ibu saya meninggalkan Ayah hanyah karena Ibu saya merasa bosan dengan kehidupan yang serba kekurangan diawal pernikahanya ibu berselingkuh kemudian dia menikahi orang yang lebih kaya.

Saya kemudian diajak ikut tinggal bersama dengan Ayah beserta Step mother, permasalahan mulai timbul dari sini saya merasa hingah usia sekarang ini belum pernah merasakan kasih sayang dari Parents. Kehidupan saya mulai dari kecil hingah saat ini selalu yang ada bentakan serta cacian serta ketidak adilan dari my step mother.

Yang saya pertayakan :

Apakah  saya harus tetap hormat kepada ibu kandung saya (saya bertemu dengan ibu kandung saat kelas 2 smp) kemudian saya mencoba untuk mengakrabkan diri kepada beliau. Yang terjadi diluar dugaan beberapa waktu lalu saat saya main ke Rumahnya tanpa ada angin atau pembicaraan saat itu saya menonton TV dia ( Ibu kandung ) berbicara “kamu itu bukan tanggung jawab Aku lagi karena kamu tanggung jawab ibu tiri serta Ayahmu (alm) serta Kamu Jangan pernah berharap warisan dari Aku (Dia memang kaya raya )” seketika itu juga saya langsung pulang karena saya merasa direndahkan. Padahal kedatangan saya Cuma berharap ketemu beliau saja tanpa berharap apapun dari beliau. “Dia juga berpesan bila nanti terjadi pernikahan saya ia tidak akan bertanggung jawab apapun karena itu juga termasuk tanggung jawab Ayah(alm) karena ia berpendapat ia sudah lepas tanggung jawab. Tanggung jawabnya hanyah kepada 2 step bother saya ”Tapi hingah hari ini saya masih menaruh dendam kepada Ibu kandung kenapa dia bisa tega berbicara seperti itu kepada saya, sedangkan selama perjalan hidup saya ketika saya sakit masuk hospital toh dia juga tidak menenggok saya ataupun merawat saya termasuk jika saya ada kesulitan saya selalu menyelesaikan sendiri.

Step mother dari dulu hinggah sekarang selalu mendahuluhkan kebutuhan putra2nya  hal ini sudah saya sadari sejak dulu karena waktu sekolah hingah sekarang hal itu tidak pernah beruba sama sekali biarpun ada Ayah saya saat itu. Ayah saya Cuma berkata “ Kamu pandai – pandai membawa diri ikut tinggal bersama ibu tiri”. Ketika kulia saya aja mencari biaya dengan berkerja sebagai buruh pabrik, persoalan timbul saat itu saya belum bisa beli motor sendiri. Ayah yang beli motor itu sedangkan adik tiri saya juga membutuhkan untuk kegiatan sehari – hari akhirnya terjadi pertengkaran saya mengalah untuk tidak memakai akhirnya saya kredit motor walaupun dengan susah paya untuk mengatur keuangan yang sangat terbatas bahkan cenderung kekurangan saya harus bayar kuliah serta motor.Sedangkan saat keadaan itu berlangsung bila adik saya minta biaya kulia (Dia hanyah kulia saja tanpa kerja )Ibunya selalu meminta pada saya untuk tambahan akhirnya saya terpaksa nyari2kan bila tidak ngomel2 terus.Suatu ketika saya butuh uang untuk kebutuhan kuliah dia tidak ngasih tetapi dia bilang ini uang pinjaman yang harus kamu lunasi.Apakah saya harus tetap hormat?? Apakah saya wajib membantu bila keadaanya seperti itu sendangkan saya diminta untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri karena dia juga pernah berkata” Uang gaji Ibu hanyah untuk kebutuhan ke 2adik saya, saya merupakan tanggung jawab Ayah (Alm)”Semisal ini saya akan berencana untuk meneruskan pendidikan keahlihan Dia bilang kamu Aku pinjamakan uang ke Pak.De kamu tah! tapi entar kamu yang bayar! Sedangkan bila untuk kebutuhan Adik saya dia langsung usahakan. Kenapa saya harus dibebani yang namanya Hutang?????

Saya menyesal belum sempat meminta maaf kepada alm Ayah. Karena satu minggu sebelum ia meniggal saya sempat bertengkar sama beliau karena saya menuntut persamaan hak dan kewajiban seorang anak dan orang tua dari segi apapun baik matrial maupun inmatral. Apa yang harus saya lakukan????

Apa hukum seorang muslim menikah dengan orang diluar muslim, Serta pernihkannya dilakukan diluar cara muslim.Tetapi setelah pernihkan itu ia kembali tetap menjalankan ibadah sesuai muslim. Sedangkan istrinya tetap beragama non muslim. Serta bila terjadi pernikahan kelak bila saya tidak melibatkan pihak keluarga saya bagaimana? Baik itu kakak ataupun Orang tua saya !Karena saya menganggap mereka tidak peduli lagi akan saya. Toh apapun yang terjadi dirumah saat ini yang diajak rembukan adalah adik2 tiri saya.

Saya mohon diberi petunjuk doa agar saya dalam beribadah tidak musiman kadang baik kadang tidak ibadah sama sekali.Saya berharap menjadi seorang muslim Khafa.

Demikian dulu pertayaan dari saya, Saya ucapakan terimah kasih atas saran serta masukanya.
Wassalamua`alaikum wr.wb
Hormat saya
– Dhian

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

Sebelumnya mohon maaf jika jawaban kami tidak sepanjang cerita dan pertanyaan Anda. Kami hanya ingin memberikan beberapa catatan sebagai bahan renungan, sebagai berikut:

  1. Kehidupan dunia ini penuh ujian dan cobaan. Dan itu memang sudah menjadi sifat dasarnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dia Dzat Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk [67]: 2). Maka untuk hidup di dunia, kita harus siap menghadapi ujian dan cobaan, meskipun tidak boleh mencarinya. Dan seorang yang tidak siap menghadapi ujian dan cobaan, berarti sama saja ia tidak siap untuk hidup!
  2. Iman kepada taqdir secara benar dan positif adalah merupakan salah satu modal dasar utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi beragam rona dan dinamika dalam perjalanan hidupnya di dunia ini. Maka yakinlah bahwa, segala yang terjadi dalam hidup Anda itu adalah taqdir Allah yang tidak ada sikap yang lebih baik daripada mengimaninya, menerimanya dan berbaik sangka kepada Dzat Penentunya.
  3. Lihatlah di sekeliling Anda, maka akan Anda dapati banyak sekali hamba-hamba Allah yang ditaqdirkan berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk dan lebih berat daripada Anda. Dengan begitu kita akan tetap bersyukur atas limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga, namun kita lebih sering melalaikannya dan tidak menyadarinya.
  4. Jadikanlah perjalanan kehidupan Anda sejak dari keadaan orang tua Anda, sebagai sumber pelajaran, gudang ibrah dan pemasok hikmah yang akan sangat bermanfaat dalam menapaki jalan masa depan Anda yang panjang. Ambil positifnya dan buang serta singkirkan jauh-jauh negatifnya! Inilah sikap dewasa yang bermanfaat dan produktif. Sementara itu sikap yang hanya meratapi dan apalagi ‘mengutuk’ kondisi kini dan khususnya masa lalu yang dianggap kurang beruntung, adalah sikap kekanak-kanakan dan bahkan kesia-siaan yang hanya akan merugikan diri sendiri.
  5. Apapun yang terjadi, ibu kandung Anda tetaplah ibu kandung yang telah berjasa mengandung dan melahirkan Anda, serta yang tetap memiliki hak bakti dari anaknya, meskipun dalam kondisi seperti yang Anda paparkan, tentu saja sifat, bentuk dan tingkat bakti yang dituntut, memang tidak bisa disamakan  dengan hak bakti ibu yang lebih bertanggung jawab!
  6. Sedangkan terhadap ibu tiri, Anda juga tetap punya kewajiban untuk berbuat dan bersikap baik terhadapnya, sebagai bentuk balas jasa dan balas budi, sesuai kadar jasa kebaikan yang telah ia berikan dalam turut merawat dan membesarkan Anda.
  7. Adapun terhadap bapak yang telah tiada, maka kewajiban bakti Anda bisa berupa do’a dan juga beberapa bentuk amal shaleh yang bisa Anda lakukan dengan cara diniatkan untuk beliau, seperti sedekah misalnya dan semacamnya.
  8. Sedangkan tentang hukum pernikahan beda agama, yang ditolerir hanyalah dalam kondisi si wanita yang non muslimah (tidak sebaliknya) dan itupun hanya untuk agama Yahudi dan Nasrani saja (lihat QS. Al-Maidah [5]: 5), dan juga dengan  syarat pernikahan harus terjadi secara dan menurut hukum dan tata cara Islam. Dan jika terjadi menurut agama lain, maka pernikahan tidak sah dan hubungan yang terjadi, jika tetap dipertahankan, adalah hubungan yang haram.
  9. Menyambung tali silaturrahim itu adalah wajib dan sekaligus merupakan sebuah kemuliaan, termasuk dengan sanak saudara yang memutusnya sekalipun. Maka kami sarankan, saat menikah nanti, Anda tetap mengundang dan menyambung hubungan dengak keluarga Anda. Dan lagi Anda tidak tahu, sangat boleh jadi suatu saat nanti Anda akan sangat membutuhkan mereka.
  10. Untuk menjaga keistiqamahan dan komitmen dalam beribadah, dibutuhkan keimanan, kesadaran, kesungguhan, usaha, milliu yang kondusif, disamping kerja sama yang baik dengan orang-orang yang taat beribadah. Tentu saja doa yang tulus dan ikhlas adalah salah satu sarana yang harus dilakukan. Tapi ada satu hal yang juga sangat penting, yaitu berusaha membersihkan hati dan pikiran dari muatan-muatan negatif karena pengaruh kondisi dan masa lalu, seperti rasa benci, dendam, dengki, dan sejenisnya, yang bisa menjadi penghalang yang sangat efektif untuk kita bisa taat beribadah dengan khusyuk dan ajeg.

Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga Sakinah, Konsultasi

Berbagi Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s