Penyesalan Telat Menikah

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb

Sebelumnya maafkan saya kalau saya tidak pandai merangkai kata2. Saya langsung pada pokok permasalahannya saja:

saat ini  usia saya sudah 37 thn, usia yang cukup matang untuk berumah tangga, tapi sampai saat ini saya masih membunjang. saya pernah beberapa kali punya hubungan tapi selalu kandas. saya tidak tahu harus bagaimana…….

banyak yang mengatakan saya seorang yang pemilih tapi sebenarnya saya bukan orng yang seperti itu.saya tidak pernah meminta yang muluk bagi saya yang penting dia seiman, bisa jadi imam, dan bisa menerima keluarga saya apa adanya, terkadang dalam doa saya selalu bertanya pada ALLAH apa yang salah dengan diri saya, kenapa tak satupun dari hubungan yang saya punya berhasil, kenapa saya tidak seperti teman2 saya yang lain, kenapa ALLAH memberi cobaan yang begini berat buat kehidupan saya. Terus terang saya hampir kehilangan harapan dan rasa putus asa mulai membayangi kehidupan saya, bagaimana saya harus mengembalikan semangat saya yang hampir redup ini. Saya yakin ALLAH punya maksud yang lain buat kehidupan saya, tapi kapan?

Sekian dulu curahan hati saya….mungkin belum saya ceritakan semuanya tapi yang penting sekarang saya ingin mendapatkan nasehatnya untuk mengembalikan harapan saya yang mulai redup.Terima kasih atas bantuaannya.

Wassalam

–  W.

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, Amma ba’du:

Kami berdoa semoga Allah senantiasa menjaga keimanan dan keislaman Anda, kami dan kaum muslimin, serta memberi taufiq kepada kita semua agar tetap istiqamah, ajeg, tabah, sabar, tawakkal, optimis, semangat, dan stabil  di atas jalan kebenaran Islam di tengah-tengah beragam ujian dan cobaan yang memang sudah merupakan salah satu tabiat dan ciri dasar hidup di dunia. Pada hakekatnya, tak seorangpun yang hidup di dunia ini tanpa ujian dan cobaan. Hanya saja bentuk-bentuk ujian dan cobaan yang terjadi sangat beragam dan bermacam-macam, disamping bertingkat-tingkat, dari satu orang ke orang yang lainnya.

Adapun tentang apa yang harus dilakukan agar tetap bisa istiqamah, ajeg, tabah, sabar, tawakkal, optimis, semangat, stabil dan tidak labil serta tidak putus asa dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan hidup, seperti ujian dan cobaan telat menikah misalnya,  maka kami ingin menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Tingkatkan ilmu dan pemahaman tentang prinsip-prinsip dan dasar-dasar ajaran Islam. Karena kami memprediksi bahwa, salah satu faktor yang melatar belakangi munculnya sikap penyesalan dan bahkan keputus asaan dalam menyikapi ujian dan cobaan hidup, seperti telat menikah bagi seorang wanita misalnya, adalah lemahnya pemahaman tentang aqidah dan syariah Islam. Biasanya salah satu indikasinya adalah munculnya sikap dan persepsi yang salah dalam diri seseorang dengan menjadikan apa yang ada dan terjadi di dalam realita kehidupan dunia ini sebagai standar dan parameter benar dan salah, baik dan buruk, untung dan rugi, bahagia dan sengsara dan seterusnya. Sehingga ia menilai misalnya orang yang lapang rizki dan banyak harta berarti benar, dan orang yang sempit rizki dan miskin berarti salah. Kondisi orang yang sehat berarti pasti baik, dan kondisi orang yang sakit  berarti pasti buruk. Orang yang cantik atau ganteng berarti untung, dan orang yang tidak cantik dan tidak ganteng berarti rugi. Orang yang dapat jodoh dan menikah berarti pasti bahagia, dan orang yang belum atau tidak dapat jodoh dan belum atau tidak menikah berarti pasti sengsara. Dan begitu seterusnya.

    Itu semua tidak benar. Karena memang kehidupan di dunia ini dan apa yang terjadi di dalamnya bukanlah standar atau parameter untuk menentukan benar dan salah, baik dan buruk, untung dan rugi, bahagia dan sengsara, dan seterusnya. Apa yang dianggap benar belum tentu benar, dan apa yang dianggap salah juga belum tentu salah. Apa yang dinilai baik belum tentu baik, dan apa yang dinilai buruk juga belum tentu buruk. Misalnya orang biasa menganggap bahwa kekayaan dan banyaknya harta adalah baik dan bahagia, sedangkan kemiskinan adalah buruk dan sengsara. Tapi betapa banyak kita dapati dalam realita kehidupan, orang-orang yang pada saat miskin dan paspasan adalah orang-orang yang baik dan taat, tapi berubah menjadi jahat dan suka maksiat setelah dibukanya pintu rizki di hadapannya. Kita biasa mempersepsikan bahwa orang yang dapat jodoh dan menikah pasti bahagia. Padahal tidak sedikit orang yang melaknat pernikahannya sendiri, karena kesengsaraan dan ketersiksaan yang tiada akhir justru dialaminya setelah dapat jodoh dan menikah itu. Sehingga iapun akhirnya yakin lebih baik orang yang lajang dan tidak menikah daripada orang yang dapat jodoh dan menikah tapi berujung sengsara. Dan cerita-cerita seperti itu banyak sekali sebagaimana yang sering kami temui dalam konsultasi-konsultasi keluarga yang kami terima.

    Begitulah. Yang jelas standar dan parameter benar dan salah, baik dan buruk dan semacamnya adalah standar syariah Allah, dan bukan standar dan parameter pandangan, penilaian dan anggapan manusia yang seringkali salah dan bahkan terbalik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Telah diwajibkan atas kamu berperang, sedangkan berperang itu tidak kamu sukai. Namun boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal sesuatu itulah yang justru lebih baik bagi kamu. Dan (sebaliknya) boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu justru lebih buruk bagi kamu. Allah-lah Yang Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
  1. Pahamilah ujian dan cobaan kehidupan dengan benar dan proporsional. Serta hadapilah semuanya itu dengan iman, tawakkal dan sabar. Ya. Sabar adalah salah satu senjata utama bagi orang beriman dalam kehidupan di dunia ini. Sabar itu emas dan bahkan lebih dari emas. Dan setiap peluang yang membuat, mendorong dan menempa seseorang untuk bersabar adalah peluang emas, yang harus dimanfaatkan dan dioptimalkan pemanfaatannya sebaik-baiknya.

    Dalam hidup ini banyak sekali peluang dan kesempatan yang mendorong dan menempa manusia untuk bersabar, khususnya bagi orang-orang beriman. Karena kehidupan dunia ini memang identik dengan ujian dan cobaan. Keimanan juga identik dengan ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu semua, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk [67]: 2). Allah juga berfirman (yang artinya): “Dan sungguh akan Kami berikan ujian dan cobaan kepada kamu sekalian, berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kehilangan sebagian harta, sebagian jiwa, dan sebagian buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]: 155). Tentang ujian yang terkait dengan keimanan, Allah Ta’ala antara lain berfirman (yang artinya): “Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan (saja) menyatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak akan diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka (dengan ujian itu) Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanan mereka), dan Dia juga benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 2-3).

    Semua ujian dan cobaan harus dan hanya bisa dihadapi dengan iman, taqwa, tawakkal dan sabar.  Dan, sebagaimana kita ketahui, orang-orang mukmin yang sabar dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan berbagai kemuliaan yang sangat istimewa, seperti ma’iyyatullah (kesertaan Allah) yang bersifat khusus (yakni berupa penjagaan, pertolongan, hidayah dan taufiq), melejitnya kualitas keimanan, melimpahnya rahmat dan barokah, terhapusnya dosa-dosa, berlipatgandanya pahala-pahala tanpa batas, tingginya derajat di Surga, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) melalui sarana sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 153). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): ”…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar [39]: 10).

    Dan karena demikian istimewa serta utamanya sifat dan sikap sabar itu, tidak bisa tidak kita harus melihat dan menyikapi setiap bentuk ujian dan cobaan – dari sudut pandang positif – sebagi peluang dan kesempatan emas, yang disediakan oleh Allah bagi kita, untuk meraih berbagai kemuliaan istimewa di sisi Allah. Meskipun, di saat yang sama kita juga wajib senantiasa berupaya optimal untuk menghindari setiap ujian dan cobaan, jika bisa, dan tidak malah mengharap-harapkan atau sengaja mencari-carinya, dengan tujuan untuk menguji kesabaran misalnya!
  1. Jagalah diri agar senantiasa berada di tengah-tengah komunitas teman-teman dan sahabat-sahabat di antara kaum muslimat yang shalehah. Bergabunglah selalu di dalam aktivitas-aktivitas keislaman dan dakwah bersama mereka. Disamping juga dari waktu ke waktu sampaikan, konsultasikan dan musyawarahkanlah masalah-masalah dan problematika-problematika kehidupan kepada mereka. Insyaa-Allah mereka akan bisa membantu, seandainya tidak atau belum bisa secara penuh, setidaknya bisa meringankan. Tapi yang jelas, keberadaan dan kebersamaan di antara kaum mukminat yang shalihat merupakan salah satu sarana terbaik untuk menjaga diri agar tetap tegar, istiqamah, dan semangat.
  2. Tentu yang paling penting, janganlah pernah putus harapan dan putus asa. Karena orang beriman selalu memiliki harapan yang sebesar-besarnya kepada Allah. Dan Allah tidak akan mengabaikan atau menyia-nyiakan keimanan, harapan dan usaha hamba-Nya yang tulus, ikhlas, tawakkal, yakin dan sabar. Maka teruslah berusaha secara optimal dan maksimal dengan cara-cara yang syar’i dan tidak melanggar. Dan diantara usaha optimal itu adalah dengan menjaga dan meningkatkan ketaqwaan dan taqarrub ilallah (pendekatan diri kepada Allah), baik melalui shalat, puasa, baca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan lain-lain. Tapi dengan syarat, tidak memasang target tertentu dan tidak “mendikte” Allah. Lakukanlah semua itu dengan benar dan ikhlas sebagai bukti ibadah dan penghambaan diri kita kepada Allah, dan serahkan semua hasil dan keputusan yang terbaik kepada Allah. Dan jika itu kita lakukan dengan benar dan ikhlas, maka Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Menepati janji. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka niscaya Dia akan memberikan jalan keluar bagi (permasalahan) nya, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”…”Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan kemudahan kepadanya dalam urusannya” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 2-4).
  3. Yakinkan diri bahwa, bersuami dan menikah bukanlah satu-satunya jalan hidup bahagia. Bahkan juga bukan jaminan mutlak untuk seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan. Terbukti dengan banyaknya kaum perempuan yang tetap tidak bisa menggapai hidup bahagia meskipun telah bersuami dan berkeluarga. Sementara itu jusrtru tidak sedikit kaum wanita yang tetap bisa membahagiakan diri meskipun harus hidup tanpa kehadiran suami dan anak-anak. Bagaimana caranya? Jawaban dan contoh-contohnya bisa Anda dapati dalam buku bagus: “Telat Menikah Tapi Bahagia” (judul asli berbahasa Arab: “Ghairu Mutazawwijaat Laakin Sa’iidaat” yang juga bisa diterjemahkan: “Bahagia Tanpa Suami”) karya seorang pakar masalah keluarga dari Kuwait, Al-Ustadz Muhammad Rasyid Al-‘Uwaid, terbitan Al-‘Itishom Cahaya Umat (edisi terjemahan). Silakan menyimak.

Wallahu a’lam, wa Huwal-Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal-Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Tinggalkan komentar

Filed under Konsultasi, Tazkiyah dan Akhlak

Berbagi Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s