Istighfar yang Perlu Diistighfari

Istighfar yang benar dan efektif harus memadukan antara kejujuran tobat, totalitas keikhlasan hati, kesungguhan dalam memohon ampunan dan pelafalan lesan.

Jika tidak, maka seperti ungkapan Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa, tak jarang, istighfar kita justru masih perlu diistighfari lagi dan lagi!

Ya memang banyak praktik istighfar dan tobat yang justru harus dilakukan istighfar dan tobat lagi darinya.

Diantaranya misalnya:

1. Tobat dan istighfar yang tidak ikhlas dan tidak totalitas murni ditujukan hanya kepada Allah.

2. Tobat dan istighfar lesan yang tidak didasari dan dibarengi dengan tobat serta istighfar hati juga pikiran.

3. Tobat riya’ dan istighfar sum’ah. Seseorang bangga diri dengan tobat yang dilakukan. Atau “menviralkan” istighfar yang dipanjatkan. Maka hati-hati dan waspadalah terhadap tobat dan istighfar medsos misalnya.

4. Tobat dan istighfar orang yang justru tidak merasa begitu perlu tobat atau istighfar.

5. Tobat dan istighfar orang yang merasa sudah cukup atau paling banyak tobat dan istighfar.

6. Tobat dan istighfar yang putus atau putus-putus alias tidak kontinyu. Padahal dosa dan kemaksiatan jalan terus.

7. Tobat dan istighfar yang tidak sepadan. Dosa begitu besar, tapi tobat yang dilakulan justru kecil saja. Kemaksiatan sangat banyak, namun istighfar yang dipanjatkan hanya sedikit sekali.

8. Tobat salah alamat, salah sangka atau salah paham. Semisal tobat dari kebenaran yang dikira kebatilan, atau penyesalan gegara telah menempuh jalan lurus yang disangka jalan sesat, juga istighfar dari ashalah (kemurnian) yang disalah pahami sebagai inhiraf (penyimpangan), dan seterusnya. Ini jenis tobat penganut firqah sesat atau si awam fanatik buta.

9. Tobat suudzan. Seperti tobat dan istighfar orang yang justru tidak yakin bahwa, Allah akan menerima tobatnya dan mengampunkan dosanya.

10. Tobat dan istighfar parsial. Yaitu tobat dan istighfar dari sebagian dosa, tidak dari sebagian yang lain. Padahal seharusnya syamil dari seluruh dosa: besar, sedang dan kecil.

11. Istighfar egois yang hanya untuk diri sendiri. Sementara untuk orang lain, termasuk ibu bapak dan para pemilik hak, justru bakhil sekali.

12. Bahkan sepertinya sayapun perlu tobat dan istighfar dari status tentang tobat dan istighfar ini. Dan lain-lain.

فَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيْمَ الٌَذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيَُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 100×

Tinggalkan komentar

Filed under Istighfar dan Keajaibannya

Berbagi Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s